Kayu Jati Tua Asal Jatim Ini Tembus Pasar Eropa

Kayu jati Indonesia telah dikenal bakal kualitasnya yang mumpuni. Oleh sebab itu, kayu jati, baik itu di dalam wujud utuh maupun potongan, sanggup diolah menjadi benda berharga ekonomi tinggi.

Hal itu telah dibuktikan oleh Krisna Purnomo, pebisnis produk kerajinan berasal dari potongan kayu jati lawas. Sudah 10 th. ia menjalankan usaha ini dengan membentuk badan usaha CV DeBough Indonesia, dan telah mengekspor produknya ke sejumlah negara Eropa.

Krisna menjabarkan potongan berasal dari kayu jati tua mempunyai corak indah yang terbentuk alami. Dengan tambahan sentuhan artistik, Krisna sanggup menghasilkan produk dinding kayu, furniture, dan produk lain yang mempunyai penampilan menawan dan diminati pembeli di Eropa.

Kayu-kayu lama tersedia unsur yang terlalu luar biasa. Satu rarity, ke-2 kayu kayu itu kayu menjadi berasal dari produk zaman dulu yang good quality, ketiga kayu-kayu itu telah diproses oleh alam dan kebolehan itu sanggup dicompare dengan kayu baru masih menang. Ada sistem pembuatan oleh waktu, jikalau aku bilang ke buyer aku itu ‘crafting by god’, dia diukir oleh alam menjadi sesuatu yang indah. Ketiga unsur itu sendiri kallau sanggup kita olah menjadi produk yang unik

Dengan keunikan dan keunggulan berasal dari kayu jati Indonesia, Krisna menyebut produk yang dihasilkan sanggup terhubung potensi pasar baru di mancanegara. Satu perihal yang terpenting, kata dia, bagaimana kayu yang mempunyai mutu unggul itu diolah supaya tambah menarik dan diminati.

“Kalau konsep saya, aku bukan menjual furniture. Saya menjual feeling, aku menjual beauty, aku menjual art di dalam kemasan furniture atau wall panel atau bermacam produk berasal dari kayu. 10 th. lalu, barangkali pertama di Indonesia buat wall panel berasal dari kayu-kayu jati,” ungkap Krisna.

Produk-produk yang dibikin Krisna dijalankan secara handmade. Namun, ia meyakinkan sistem memproses berlangsung cocok kaidah industri, supaya quality control dijaga ketat. Selain itu, ia terhitung menerapkan sistem kerja yang sistematis supaya sanggup mencukupi target pesanan berasal dari para buyer di luar negeri.Saya memposisikan diri aku sebagai artpreneur.

menjadi tersedia kaidah-kaidah furniture yang kudu aku ikuti, seperti konstruksi, kekuatan, namun unsur standar beautynya aku yang create. Kalau diterima buyer ya sudah, kita yang buat standar sendiri. Tapi standar itu begitu kita ciptakan kita kudu mematuhi, line produksinya kudu tertata,” tutur Krisna.

“Proses fabrikasi ini menurut kaidah teknologi industri namun pengerjaan purely handmade. Itu baru aku sanggup memadukan produk art namun masih sanggup kita memproses semi mass production,” imbuh Krisna.

Ia pun bercerita, di awal menjalani usaha tersebut, ia sempat mengalami hambatan pendanaan. Beruntung, ia meraih keyakinan berasal dari buyer yang senang membayar terutama dahulu supaya Krisna sanggup mengerjakan pesananannya.

Selanjutnya, supaya sanggup lebih produktif, Krisna mencari pembiayaan berasal dari perbankan. Ia pun bersua dengan BNI yang akhirnya memberinya kucuran dana modal. Hingga sementara ini, kata Krisna, ia meraih bantuan pendanaan berasal dari BNI untuk tetap mengembangkan bisnis.

“Di tengah jalur itu aku kenal dengan BNI sampai sekarang. Waktu perkembangan sepanjang 10 tahun, hampir tiap tiap th. tersedia ekspansi berasal dari perusahaan selamanya dibantu pendanaan berasal dari BNI,” ungkap Krisna.

Krisna menjelaskan lebih dari satu kali meraih pesanan, namun terhambat kapasitas modal. Untuk menyiasati perihal itu, Krisna terhubung sarana pendanaan berasal dari BNI supaya selamanya sanggup mengambil alih pesanan.

“Kita senang nolak itu sayang, jikalau kita nolak buyer itu pergi ke pabrik lain, di acari lagi. Jadi kita kudu kerjakan, di situ tantangannya. Kebetulan tersedia BNI yang bantu itu, menjadi kadang kala berasal dari PO (pre order) atau berasal dari LC (letter of credit) kita dikasih pencairan bantuan untuk dana itu,” urai Krisna.