Adab Berhutang Dalam Islam

Ulasan lengkap tentang adab berhutang √ Adab memberi hutang √ Cara menagih hutang  √ Bagaimana kalau tidak bayar hutang, bolehkah dituntut?

adab berhutang

Apa Itu Hutang?

Berhutang adalah meminjam uang dengan jumlah tertentu dan akan di kembalikan dengan jumlah yang sama, dengan perjanjian waktu pengembalian yang sudah di tentukan dan di sepakati oleh kedua belah pihak (penghutang dan pemberi hutang).

Itulah definisi singkat tentang hutang, tapi dengan banyaknya asumsi dan sifat masyarakat kita yang tidak enakan, apalagi kepada saudara atau kerabat yang sudah akrab, maka kita tidak lagi memperhatikan adab berhutang, sehingga jika di kemudian hari ada masalah dalam pembayaran bisa memecah persaudaraan dan silaturahmi.

Lalu apa saja adab dalam berhutang?, Apakah islam mengajarkan adab dalam masalah ini?, berikut beberapa point adab berhutang dalam islam.

Adab Berhutang Dalam Islam

Setidaknya ada 6 point yang harus kita perhatikan dalam muamalah hutang ini, kami bagi 2 bagian adab orang yang berhutang dan adab pemberi hutang.

Adab Orang Yang Berhutang

Hanya Berhutang Jika Keadaan Mendesak

Seharusnya seorang muslim berusaha dengan sekuat tenaga untuk memecahkan masalahnya, jika semua yang sudah di lakukan mentok dan belum mendapatkan jalan keluar, maka berhutang adalah jalan yang harus di tempuh, barulah kita berhutang.

Niat Membayar

Kelihatannya konyol, berhutang ya harus membayar, kenapa niat membayar dimasukan kedalam adab berhutang?, jangan salah ada beberapa dari masyarakat kita yang berhutang tapi dengan niat jahat yaitu dengan niat tidak membayarnya.

Dan perilaku ini adalah perilaku orang sesat, mudah mudahan kita di jauhkan dari sifat ini, dan selayaknya seorang muslim mengajamkan dalam hati untuk membayar hutang yang dilakukannya.

Segerakan Membayar Hutang

Niatkan dengan ikhlas bahwa apa yang sudah kita pinjam akan kita bayarkan sesegera mungkin, karena ini adalah salah satu pembalasan yang baik kepada pemberi hutang.

jangan sekali kali kita menunda pembayaran hutang jika kita sudah mampu membayarnya, karena ini adalah perbuatan zalim, dan tidak patut seorang muslim berbuat demikian.

Jalin Komunikasi

Jika kita tidak mampu untuk membayar hutang pada waktu yang sudah di janjikan, maka segera beritahukan kepada pemberi hutang karena ini adalah hak bagi pemberi hutang.

Jangan sampai tidak ada komunikasiperihal ini, karena kita telah menahan hak orang yang memberikan pinjaman kepada kita.

Adab Pemberi Hutang

Catat dan Datangkan Saksi

Ini adab yang sudah jarang dilakukan oleh kebanyakan masyarakat kita karena beberapa alasan yang seharusnya tidak terjadi, misal karena tidak enak, sudah merasa kenal akrab dan lain sebagainya.

Dengan mencatat dan mendatangkan saksi maka transaksi hutang piutang kita aman dan sesuai dengan tuntunan syariat islam, sebagaimana yang di terangkan dalam Al Quran Surat Al Baqarah Ayat 282.

Tidak Mengambil Untung

Jangan kita niatkan dalam perjanjian hutang piutang untuk mendapatkan keuntungan, karena ini adalah termasuk kedalam riba yang mana pelakunya akan di hukumi seperti seorang pezinah yang berzinah dengan ibu kandungnya sendiri.

Niatkan ikhlas karena ALLAH Azza Wa Jalla karena ini lebih besar keuntungannya, yaitu berupa pahala yang akan kita dapatkan kelak di akherat.

Menagih Hutang

Termasuk adab juga adalah kita menagih hutang apabila sudah masuk waktu pembayaran sesuai dengan perjanjian di awal, karena adakalanya penghutang lupa akan kewajibannya.

Jangan merasa tidak enak, karena ini bertujuan baik agar penghutang tidak berbuat zalim kepada kita, yang mana perbuatan zalim tersebut akan sangat merugikan penghutang.

Memberikan Tempo

Jika sudah jatuh tempo pembayaran hutang, orang yang menghutang tidak atau belum mampu untuk membayarnya, maka memberikan tempo dan membuat perjanjian baru kapan hutang bisa di bayarkan.

Pada waktu yang sudah di tentukan tersebut, maka kembali kita tagih.

Meringankan Hutang

Jika dirasa orang yang berhutang merasa susah dan berat untuk mengembalikan uang yang dipinjam, alangkah baiknya kita meringankan hutang tersebut.

Bisa dengan mengurangi jumlah hutang maupun membebaskan hutangnya, tentu semua dilihat dari banyak sisi, misal dari jumlah hutang, kemampuan orang yang berhutang dan juga keadaan finansial yang menghutangkan.

Cara Menagih Hutang

Sebenarnya adab menagih hutang simple, hanya sampaikan bahwa jatuh tempo pembayaran sudah tiba. Tapi terkadang ada hal hal khusus yang mengharuskan kita untuk melihat keadaan dan menggunakan adab dalam menagih hutang.

Lihat Keadaan Penghutang

kalau kita bisa melihat bagaimana keadaan orang yang berhutang, misal dalam masa sulit, maka sampaikan maksud kita dengan lembut dan berikan kelonggaran jika memang tidak bisa membayar,misal dengan membayar separuhnya atau menunda ke waktu lainnya atas kesepakatan kedua belah pihak.

Menuntut Orang Yang Tidak Bayar Hutang

Jika keadaan yang tidak menmungkinkan, misal ada orng hutang ke kita dengan nominal yang menurut kita besar, tapi setelah beberapa kali di kasih keringanan tidak jua membayar hutang, dan kita lihat padahal dia mampu untuk membayar, maka kita bisa menuntut orang tersebut dan melaporkannya kepada pihak berwajib.

Dan dalam hal ini boleh kita lakukan, karena sesuai dengan syariat islam sebagaimana di terangkan di dalam riwayat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. :

لَيُّ الوَاجِدِ يَحِلُّ عُقُوْبَتَه ُوَعِرْضه

“Menunda pembayaran bagi yang mampu membayar, (ia) halal untuk dihukum dan (juga) kehormatannya”.

Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Halal kehormatannya ialah dengan mengatakan ‘engkau telah menunda pebayaran’ dan menghukum dengan memenjarakannya” [Ibid, no. 2401]

Inilah pentingnya mencatat dan mengadakan dua orang saksi pada awal transaksi hutang piutang, jika ada orang yang niat jahat dengan tidak membayar hutang padahal dia mampu, maka lakukan langkah hukum.

Demikian artikel tentang adab berhutang semoga kita di jauhkan dari sifat dzalim dan di berikan kecukupan dan ketaqwaan sehingga tidak perlu berhutang.